Sabtu, 05 Januari 2013

BONEKA HORTA

sumber:Berawal dari sebuah hasil penelitian, akhirnya berbuah bisnis menggiurkan.  Lewat Boneka Horta,  sekelompok mahasiswa IPB menciptakan peluang usaha baru lewat gagasan kreatif. Seperti apa bisnisnya?
Mungkin bisa dihitung dengan jari, usaha sukses yang dibuahkan oleh instansi pendidikan. Salah satunya adalah Boneka Horta. Cikal bakal boneka rumput ini dimulai dari penelitian sekelompok mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) Bogor, Jawa Barat – yang dimotori oleh Gigin Mardiansyah, Nisa Rahmania, dan Asep Rodiansyah.
Pada tahun 2004, dengan berbekal proposal, Gigin dan kawan-kawan mempresentasikan gagasan-gagasan kreatifnya kepada Dirjen Pendidikan Tinggi. Di sinilah Kelompok ini menelorkan ide Boneka Horta.  Awalnya, tujuan Boneka Horta untuk memperkenalkan dunia pertanian pada anak-anak dan waktu itu belum ada orientasi bisnis.
Dari ide itu, tahun 2005, Gigin mendapatkan dana dari Dikti Rp 4.750.000,-.  Ini menjadi modal awal usahanya.  Dari uang itu, tim Boneka Horta membuat lima puluh sampai seratus item perbulan. Sebagai pertanggungjawaban terhadap dana yang diberikan oleh Dikti, Gigin dan kawan-kawan mulai memperkenalkan boneka-boneka rumput ini kepada masyarakat.  “Awalnya susah, dengan memajang boneka tentu tidak akan berhasil memikat orang-orang, sehingga masyarakat pun tidak akan tahu boneka apa itu,” tutur Gigin.
Boneka Horta terbuat dari bahan baku limbah industri penggergajian kayu yang dibungkus dengan stocking, diberi benih rumput, pupuk, dan aksesoris seperti mata, hiasan dan lain sebagainya. Keunikan dari boneka ini adalah adanya rumput yang bisa tumbuh di bagian atasnya, apabila disiram air setiap hari. Tujuan mereka memproduksi boneka ini adalah untuk untuk memperkenalkan salah satu produk kreatif pertanian.
Boneka Horta lama-lama mulai dikenal luas.  Efek dari words of mouth pun tak terbendung. Nama Boneka Horta yang merupakan singkatan dari Boneka Hortikultura ini cepat tersebar dan dikenal oleh masyarakat. Gigin dan kawan-kawan memproduksi Boneka Horta sebagai kegiatan sampingan setelah kuliah. Mereka berinisiatif menjual boneka itu secara eceran dan menawarkannya pada kios-kios sekitar daerah Darmaga Bogor.  Horta memang lebih dikenal sebagai produk IPB.  Menurut Gigin, Boneka Horta tidak bisa lepas dari instansi pendidikan ini, karena IPB adalah cikal bakal terbentuknya mereka. Sampai saat ini Boneka Horta masih menjadi ciri khas dari IPB, dengan hak paten yang juga dipegang oleh institusi ini.
Keseriusan tim yang juga dibadani oleh Nisa Rahmania ini terlihat pada tahun 2007. Setelah lulus, Gigin dan kawan-kawan mulai berkonsentrasi membangun Boneka Horta. Salah satu caranya adalah dengan mengikuti lomba-lomba. “Kami mengikuti berbagai macam lomba, terutama lomba-lomba yang berkaitan dengan inovasi bisnis seperti Innovative Enterpreneur Challenge di IPB dan juga Wirausaha Muda Mandiri,” ujar Gigin.  “Lomba-lomba ini kami manfaatkan sebagai ajang promosi, dan akhirnya Boneka Horta mulai dikenal oleh khalayak ramai.” lanjut Gigin.
Pada awalnya, untuk memproduksi Boneka Horta mereka mulai merekrut tiga orang karyawan dengan produktivitas yang cukup baik, lima puluh boneka per minggu.  Namun, dengan semakin membanjirnya pesanan dan meningkatnya penjualan Boneka Horta, kini mereka mempunyai empat puluh karyawan yang ditempatkan di rumah produksi  di Ciomas.  Sekarang pun produksinya sudah mencapai tujuh ratus hingga seribu boneka per hari.
Boneka Horta adalah produk utama dari usaha wiraswasta ini. Gigin selalu menekankan pentingnya kreativitas dan terus melakukan inovasi produk.  Produk ini cukup menarik perhatian masyarakat dan menjadi salah satu produk unggulan.  Sampai sekarang Horta mempunyai diferensiasi produk , yaitu Boneka Horta Panda, Horta Kura-kura, Horta Platipus, Horta Sapi, dan sebagainya. Bahkan, untuk ke depan Horta sudah menyiapkan boneka dengan variasi bentuk buah-buahan.
Boneka yang dijual adalah boneka yang masih gundul. Boneka ini harus dirawat dan disiram air, barulah kemudian rumput akan tumbuh. Melalui keunikan ini, Boneka Horta menjual experience baru kepada konsumen bahwa ini adalah boneka yang “hidup” dan perlu dipelihara.  Boneka Horta mampu menjalankan misi mereka untuk memperkenalkan dunia pertanian kepada masyarakat.
Sembilan puluh persen boneka masih diproduksi dan dipasarkan sesuai dengan pemesanan. Proses produksi memakan waktu sekitar satu minggu. Apabila konsumen memesan hari ini, minggu depan Boneka Horta baru bisa diambil. Boneka Horta sering mendapatkan pesanan dari perusahaan-perusahaan besar yang ingin menggunakan produknya sebagai souvenir.  Beberapa perusahaan tersebut antara lain adalah Toyota, Frisian Flag, dan Bank Ekonomi. Untuk sepuluh persen sisanya dijual dan didistribusikan ke toko, ritel, dan pusat-pusat perbelanjaan.
Uniknya, pada awalnya target market Boneka Horta adalah para siswa TK dan SD, dengan tujuan ingin memperkenalkan dunia pertanian kepada mereka. Namun Boneka Horta ternyata disukai oleh segmen anak muda.
Horta membandrol produknya dengan harga berkisar Rp 7000 sampai Rp 15.000 di toko Boneka Horta sendiri. Sedangkan di tempat-tempat perbelanjaan lain, konsumen bisa mendapatkan boneka dengan harga Rp 20.000 sampai Rp 25.000.  Menurut Gigin, sampai saat ini Boneka Horta sudah terdistribusi di seluruh Indonesia, tapi  untuk sementara masih di kota-kota besar. Dalam satu bulan mereka bisa memproduksi dan mendistribusikan lebih dari dua puluh empat ribu boneka. Dari penjualan yang konstan, setiap bulan Boneka Horta bisa meraih omzet Rp 100 juta hingga Rp 150 juta perbulan.
Untuk ke depan, Boneka Horta mencoba fokus pada segmen anak-anak dan melakukan edukasi tentang pertanian kepada mereka. Dengan semboyan mainan unik, kreatif, dan imajinatif yang berwawasan lingkungan, Boneka Horta optimis memasuki segmen itu. Wujud nyatanya adalah dengan memberikan pelatihan-pelatihan Boneka Horta pada anak-anak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar